Gomu Gomu no Pistol

Gomu gomu no… PISTOL!! Bagi pembaca komik jepang One Piece pasti sudah tidak asing lagi dengan kalimat tersebut. Luffy, tokoh utama dalam One Piece, yang merupakan manusia karet, mengulurkan tangannya jauh kebelakang lalu kemudian melontarkannya ke musuhnya. Gomu gomu no pistol kerap kali menjadi jurus andalan Luffy untuk mengalahkan lawan-lawannya.

Gomu gomu no pistol memiliki arti yaitu pistol karet atau peluru karet. Ternyata, pistol karet tidak hanya berbahaya di komik, tetapi di dunia nyata pun pistol/peluru karet yang digunakan sebagai senjata anti huru-hara kerap kali menimbulkan korban. Kira-kira bagaimana sejarah dan prinsip kerja peluru karet?

Teknologi senjata anti huru-hara mulai berkembang pada tahun 60-an, sebagai respon atas maraknya unjuk rasa dan kerusuhan di Amerika Serikat. Pada tahun 1970, Kementerian Pertahanan Inggris menggunakan peluru karet untuk membubarkan kerusuhan yang terjadi di Irlandia Utara.

Peluru yang dibuat atau dilapisi dengan bahan karet digunakan sebagai cara yang “kurang mematikan” untuk pengendalian huru hara, dirancang untuk kehilangan kecepatan dengan cepat, mengurangi kekuatan benturan. Hal ini dikarenakan rata-rata kecepatan peluru karet ketika ditembakkan hanya sebesar 60 m/s, dibandingkan dengan peluru kaliber 9 mm yang memiliki kecepatan 500 m/s. Selain itu peluru karet juga memiliki massa jenis yang lebih kecil dari pada peluru tajam, sehingga peluru karet mengalami gaya gesekan udara yang lebih besar.

Secara umum, pengguna seharusnya mengarahkan senjata pada bagian lengan ke bawah atau ditembakkan ke jalan agar kemudian memantul mengenai kaki pengunjuk rasa, namun seringkali pengguna menembakkannya pada jarak yang dekat, hingga menimbulkan cedera parah bahkan kematian.

Menurut Rohini Haar, salah satu peneliti yang menulis penelitian yang berjudul ‘Death, injury and disability from kinetic impact projectiles in crowd-control settings: a systematic review’ mengatakan "Jika Anda menembak dengan jarak yang sangat dekat, Anda dapat membidiknya, tetapi kecepatannya sama dengan peluru tajam, dan itu berbahaya. Jika dari jauh, Anda tidak dapat mengarahkannya bahkan jika Anda mencoba untuk membidik kaki dan hanya menakut-nakuti, peluru akan memantul, dan berputar di udara." Dilansir dari Guardian.com

Penelitian serupa juga pernah diterbitkan British Journal of Surgery pada 1975, di masa awal peluru karet digunakan. Hasilnya, dari 90 orang yang tertembak, 17 di antaranya cacat permanen dan 1 orang meninggal.